Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Friday, October 12, 2007

Maafin Yak...

ada amarah
ada niat jahat
ada ejekan
ada kebohongan
ada ketidakpedulian
ada kebencian

Maafin ya..


-- Gum

Thursday, September 27, 2007

Someday, from the same place...

Entah apa tepatnya yang bikin dia suka sekali liat bulan purnama. Tapi semuanya terjawab, bermula dari perbincangan kami tentang istilah 'Lunatic'.

Sumpah, saya baru tau kalau istilah ini muncul karena jaman dulu orang sering menganggap bulan purnama sebagai penyebab kegilaan, bahwa ada perubahan dalam diri manusia saat dia muncul.

Tau kan legenda kera raksasa di Dragon Ball?
*halah, ngertinya itu doang*

"what would u look like when the moon comes? ^^"

"mostly i turned out mellow."

"but not crazy ^^"

"crazily mellow *maksa*"

"lunatically mellow"

"haha, luv that new word"

"just don't mutate. that'll freaks me out ^^"

Kebetulan beberapa hari ini sedang fullmoon. Dia minta saya spare some times untuk liat bulan. It's good to know that at one moment, we're staring at the same moon.

Dengan jarak yang misahin kami sejauh ini, this is the best we can do to get emotionally connected (well, selain sms dan telpon, tentunya).

"such a perfect fullmoon. Round and shiny.."

.... and i can only hope that someday we'll be able to stare at the same moon, from the same place.

*pic is from here

Friday, September 14, 2007

Movie-Watching Disturbance

Buat orang-orang yang menghargai momen-momen saat nonton film bareng teman di rumah, kemungkinan pernah mengalami gangguan-gangguan yang berasal dari sumber berikut ini :

The Spoiler

Anda punya teman tipe spoiler? Itu lho, teman yang suka kasih bocoran cerita film tanpa diminta, sementara kita jelas-jelas menikmati rasa penasaran hingga sampai waktunya kita cari tau sendiri.

Saya punya. Kalo sekedar kasih guideline sih nggak masalah. Yang parah adalah, saat saya sedang nonton film dan dia duduk di sebelah saya, dia menceritakan kejadian detik demi detik di menit-menit selanjutnya.

Rasanya pingin teriak, "Shut Tje Fuk Up!!". Tapi berhubung teman sendiri, ya sudah lah. Saya pura-pura cuek aja.


The Sleeper

Lain lagi dengan tipe sleeper. Saat kita sudah pernah nonton filmnya, dan kita ingin berbagi momen-momen penting di film itu (lucu, romantis, heboh, mencekam), ybs malah tidur pulas.

Teman seperti ini saya juga punya. Dan sialnya, lagi-lagi dia teman baik saya.


The "I'm-so-busy"

Gangguan yang saya alami saat nonton bareng teman dengan tipe ini, hampir sama dengan saat nonton bareng teman tipe sleeper. Hanya saja bedanya, ybs memang tidak tidur. Instead, hapenya sering bunyi, smsnya berdatangan terus, tamu mencet bel berkali-kali, bentar-bentar beranjak dari kursi (bikin minum lah, ambil bantal lah, blablabla).

Padahal saat itu saya juga ingin berbagi scene-scene kunci dalam film itu.


The Pure Evil

Ini yang paling ekstrim, karena biasanya orang-orang ini memang tidak ikut nonton film, tapi ikut berada di lokasi. Pure disturbance, pure annoyance, pure evil.



Jadi sepertinya saya harus lebih selektif memilih teman, lokasi dan waktu nonton film.

Wednesday, September 5, 2007

Dahlan Iskan : Jangan Menaruh Harapan Terlalu Banyak

Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apapun dan pada siapapun. Ini, menurut pendapat saya, baik. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa.

Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai.

Maka, ini saya, untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Jangan menaruh harapan terlalu banyak.

- Dahlan Iskan. Pengalaman Pribadi Menjalan Transplantasi Liver (8). Jawa Pos, 2 September 2007


Pak Dahlan, saya yakin Bapak tidak akan pernah tersesat sampai ke sini dan membaca blog saya ini. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi saya untuk tetap mengagumi perjuangan hidup Bapak. Saya kagum dengan wawasan luas serta prinsip hidup Bapak, terutama yang saya kutip di atas.

Entah kenapa, saya seperti menemukan satu-satunya orang yang sependapat dengan saya mengenai "jangan terlalu berharap" saat membaca cerita Bapak tersebut.

Hidup saya selama ini mengajarkan untuk tidak bermimpi terlalu tinggi, agar tidak terlalu kecewa saat impian itu musnah begitu saja, persis seperti yang Bapak katakan di atas. Bahkan saya justru sering njagani kemungkinan terburuk setiap aktivitas saya.

Doa saya untuk kesembuhan Bapak. Lekas sehat kembali, masih banyak yang harus saya pelajari dari Bapak.

Tuesday, September 4, 2007

Too Much Compliments is NOT Good For Your Health

Seriously, i *really* don't like being overrated.

Ya, semua orang pasti bangga kalau dipuji. Tapi siapa sih yang mau dipuji berlebihan? Terlebih lagi kalau kita sudah merendah (karena memang rendah) tapi ybs masih tetap meninggi-ninggikan?

"Eh, Gum. Kamu cakep deh...", yang begini sih biasa, karena memang kenyataanya seperti itu *ehem*.

Tapi kalo sampe, "Wah, saya kagum dengan Anda. Jadi selama ini keberhasilan perusahaan ada di tangan Anda ya?". Serius, mister. Saya benar-benar merasa nggak nyaman banget.

Saya cuma tukang koding di kantor, yang scriptnya sering error, buggy, reuse code dan sering salah kopi-pes, lupa update script, lupa ngecek cron, lalai liat log, dsb.

Well, thanks for the compliment anyway. But please believe me, if I said it was not true, then it WAS NOT true.

Wednesday, July 18, 2007

Monday, July 16, 2007

janganbugildepankamera

Rupanya sudah lumayan banyak yang gerah dengan perilaku remaja Indonesia yang mudah sekali tampil 'polos' di depan kamera.

Beberapa waktu yang lalu komunitas Video Film Mania, TV Lab Communications dan Komunitas Penulis Tangguh mencanangkan kampanye di internet sebagai bentuk keprihatinan dan ketidaksetujuan fenomena ini. Sebuah ikrar diucapkan di sebuah acara diskusi berasama FISIKOM UPN Jogjakarta sebagai awal dari gerakan kampanye tersebut.

Berikut adalah petikannya.

DEMI MASA DEPAN KITA DAN INDONESIA YANG LEBIH BAIK
KAMI BERJANJI
TIDAK AKAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!

Dan berikut adalah poster resmi dari gerakan tersebut.



Namun coba simak petikan yang saya ambil dari situs aslinya berikut ini.
Disinyalir terdapat 500 lebih cuplikan film porno yang menggambarkan hubungan sex orang-orang Indonesia yang dibuat dengan menggunakan Handphone dan Video Kamera. 90% adegan cuplikan film porno dilakukan oleh anak muda SMA dan Mahasiswa. 8%nya berasal dari rekaman prostitusi, para pejabat negara dan pemerintah (DPR dan Pegawai Negeri). 2%nya adalah cuplikan kamera pengintai yang mengambil gambar para wanita-wanita muda yang sedang bugil tanpa sadar di toilet ataupun di kamar hotel.

Fokus kampanye ini memang lebih kepada anak muda Indonesia (remaja/pelajar/mahasiswa). Tapi sebagaimana kita tahu (dan dijelaskan juga di atas), oknum pejabat negara kita juga memberikan sumbangsih terhadap fenomena ini.

Karena itu, makin adil rasanya kalau kampanye ini sedikit diperluas dengan poster dibawah:



Ya, kita (nggak mungkin cuma saya, kan?) memang menjadi konsumen 'produk-produk lokal' tersebut. Tapi sepertinya memang sudah waktunya disudahi, demi menjaga kehormatan kaum wanita Indonesia.

Saya Aneh?

Case I : MotoGP

Hampir semua orang yang saya kenal suka ngikutin (atau paling nggak, nonton) MotoGP.

Ada seseorang (ehm..) yang waktu itu saya SMS, secara memang sudah lama pengen ngajak ngobrol,
"Malem, lagi ngapain?"
Dia jawab,
"Malem juga. Ini lagi nonton MotoGP".
Langsung ilfil. SMS cuma sampe situ.

Di kantor mayoritas juga suka, termasuk rekan sebelah meja dan satu-satunya programmer cewek di kantor saya ini. Tempo hari malah banyak yang milih nonton MotoGP daripada ikutan olahraga bersama yang diadain sama kantor. Bahkan ada juga teman yang bela-belain ngerekam pakai tipi USB.

And this very night, mbak ini tiba2 nyeletuk di tengah2 chatting,
"eh gum td liat moto gp?"
Spontan saya jawab,
"ndak suka motogp"

Saya aneh ya?

Case II : Sepak Bola

Hampir semua orang yang saya kenal suka ngikutin (atau paling nggak, nonton) sepak bola.
(hmm.. saya pernah nulis kalimat seperti ini dimana ya?)

Termasuk seseorang yang saya sebutin pertama diatas ^^; dan mayoritas orang-orang di kantor.

Dari dulu sampai sekarang, bisa dibilang saya satu-satunya yang ndak suka nonton bola, ndak suka baca halaman khusus olahraga di koran (yang mayoritas isinya sepak bola), ndak suka main bola, ndak suka main Winning Eleven, CM dan berbagai computer game tentang bola lainnya.

Dan sebagai seseorang yang tinggal di kota yang kental aroma sepak bolanya, saya tetap nggak ada gereget tuh sama sepak bola.

Saya aneh ya?

Case III : TV

Hampir semua orang yang saya kenal suka nonton tipi.
(yakin deh, saya pernah bikin kalimat seperti ini)

Seseorang yang saya sebutin pertama? Ndak tau :p

Tapi yang jelas, mayoritas orang2 di kantor iya. Lebih lagi kalau sudah ganti shift malam. Tipi seperti barang sakral yang harus terus dinyalain untuk menjaga kesuciannya. Padahal belum tentu juga diliat. No offense.

Saya terganggu sekali kalau waktu kerja ada tipi yang nyala di dekat saya (terlebih lagi, bersuara). Makanya dulu sempat sewot waktu disuruh pindah dari ruang sebelah (yang ayem tanpa tipi) ke ruang tengah (tempat barang sakral itu bersemayam). Berlebihan? Mungkin, buat sebagian orang. Buat saya, nggak.

Bisa jadi hal ini muncul akibat antipati saya terhadap tayangan2 tipi yang semakin jauh dari kesan bermutu. Seperti.. ah, saya sudah terlalu sering nyebutinnya.

Yah, memang ndak sepenuhnya benci tipi, karena tetap saja ada beberapa tayangan menarik yang layak tonton. Hanya saja saya tetap akan memilih alternatif hiburan dan sumber informasi lain kalau memang tersedia.

Saya aneh, ya?

Friday, June 22, 2007

Budi

Saya akui bahwa dari segi judul, postingan kali ini ada kemiripan dengan salah satu postingannya mas ini, tapi walaupun demikian sama sekali tidak berusaha beranalogi seperti postingan tersebut.

Masih ingat jaman SD dulu, kan? Di hampir semua text book, yang jadi tokoh utamanya adalah si Budi ini (Amir juga, kalau Anda masih ingat). Beberapa memorable quote yang saya yakin Anda pasti sangat familiar adalah :
- Ini Budi;
- Ini ibu Budi;
- Ini ayah Budi;
- Ini Wati, adik Budi;
- dan so on...
Seingat saya, ibunya si Budi namanya Ani, ayahnya adalah Hasan (CMIIW). Iwan adalah adik Budi yang paling kecil. Sedangkan Amir adalah figuran yang cukup sering muncul di cerita si Budi.

Dari dulu hingga sekarang banyak pertanyaan (yang mungkin seharusnya tidak perlu dipertanyakan) muncul dalam benak saya mengenai fenomena si Budi ini. Salah satunya adalah : Kenapa harus 'Budi'? Berusaha memilih nama yang 'Indonesia banget'?

Dan seakan-akan si Budi menjadi tokoh imajiner idola saat itu, dia tidak hanya muncul pada pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pada pelajaran lain yang memiliki soal cerita. Lengkap dengan tokoh keluarga dan (kadang juga) figurannya.

Pelajaran matematika, misalnya.
"Budi mempunyai 3 buah apel. Ani dan Iwan masing-masing mempunyai 2 buah apel. Berapa total buah apel yang mereka miliki?"
(Jawaban saya sih, nol. Karena eh karena, mereka lari gara-gara ketahuan nyolong apel, dan apelnya lupa mereka bawa.)

Saya jadi curiga bahwa keluarga ini bukan sekedar imajiner. Bisa jadi ada orang Balai Pustaka (penerbit buku-buku wajib saat itu) yang sengaja memunculkan keluarganya di sini. Karena saya pasti akan melakukan hal yang sama apabila saya jadi orang itu. (kapan lagi nama 'GuM' bisa muncul di text book?)

Lucunya, saat itu saya selalu berpikir bahwa si Budi ini seumuran dengan saya. Karena saat saya kelas 1 SD, Budi juga kelas 1 SD. Saat saya kelas 2 SD, Budi juga kelas 2 SD. Begitu seterusnya. Namun si Budi masih juga muncul di buku-buku adik kelas saya. Dan saat itu muncul pertanyaan bodoh khas anak kecil, "Si Budi ini sebenernya kelas berapa sih? Apa sempat nggak naik kelas?"

Sekarang pamor si Budi sepertinya sudah luntur, digantikan oleh Amir, Evi, Nina, Wiwin, Yayuk, Tini, Kartolo.... *halah*

Kalimat contoh yang digunakan saat ini pun sudah mengandung unsur-unsur SPOK, dan memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik. Kalimat-kalimat prematur semacam 'Ini Budi' atau 'Ini ibu Budi' sudah mulai ditinggalkan. Begitu juga dengan nama-nama yang sudah over-exposed macam si Budi.

Ah, kasihan si Budi....

Ngomon-ngomong, si Budi kuliah di mana ya?

Wednesday, June 13, 2007

Twisted

Kalo gantungan kunci artinya hiasan yang digantung di kunci,
kenapa gantungan baju artinya bukan hiasan yang digantung di baju?

The Untouchable

Even in a dream.
Too pure to be touched?
I hope one day I'll end up giving it all up.

Wednesday, June 6, 2007

Why Lose a Life for a Dream?

DROP DATABASE IF EXISTS dream;
CREATE DATABASE real_life;